Saturday, July 22, 2017

Sonja dan Hobinya Foto Bareng Penulis Ternama



“Kamu suka sastra juga?” Tebak Sonja saat melihat Maria, teman sekelasnya itu membaca bukunya si penulis X.
“Ya… saya suka… suka sekali. Kamu juga?” Maria balik bertanya.
“Ya… saya pun. Wah… senang bisa sekelas dengan kamu. Mulai sekarang kalau ada acara sastra, kita berangkat bareng bagaimana?”
“Tentu. Saya akan sangat senang sekali. Oh, iya… namamu… Sonja, kan? Kita satu rombongan juga waktu Ospek.”
Semenjak saat itu, Sonja dan Maria terlihat selalu besama-sama hampir setiap hari.
***
“Mar… kamu fotokan saya dengan penulis X, ya? Nanti kita cegat depan pintu begitu.” Bisik Sonja selama workshop berlangsung.
“Oke, Nja… seperti biasanya akan saya fotokan.”
“Saya ingin sekali jadi penulis seperti si X itu.”
“Pun saya, Nja…”
***
Puluhan workshop dan talkshow berbayar maupaun tidak, dilewati Sonja dan Maria bersama-sama. Sonja tetap pada hobinya, berfoto dengan penulis ternama yang jadi pemateri, kemudian mengunggahnya ke sosial media. Maria tetap dengan telaten menuruti permintaan Sonja, menjadi tukang foto di tengah orang-orang yang saling berdesakan.
Obrolan mereka pun tetap sama, punya mimpi jadi penulis seperti si X, si Y, si A dan lainnya. Hingga pada satu titik, Maria mulai bertanya-tanya. Mengapa dia tidak mulai menulis saja? Mengapa dia melewatkan banyak waktu untuk workshop, talkshow dan kemudian workshop lagi dan talkshow lagi?
Maka, Maria berhenti. Dia tetap mengikuti workshop dan talkshow, namun makin berkurang intensitasnya. Sonja tetap dalam euforianya, berfoto dengan para penulis ternama. Dia juga tetap dalam utopianya, jadi penulis ternama suatu saat nanti. Hingga, Sonja tidak lagi sadar, Maria sudah tidak pernah lagi ada di sampingnya pada workshop mana pun.
***
“Maria! Kamu apa kabar? Sudah tiga tahun sejak sidang skripsi, kita tidak pernah jumpa sama sekali. Masih suka sastra?” Perempuan yang menepuk pundak Maria dengan keras itu, ternyata adalah Sonja.
“Nja! Ya… sudah lama sekali. Aku masih suka dengan sastra. Sesekali mencoba menulis. Kamu masih rajin ikut workhop dan talkshow agaknya, ya?”
“Ya… kamu ingat cita-citaku, kan? Cita-citaku masih tetap sama. Eh, omong-omong nanti tolong fotokan aku dengan mbak C ini, ya? Penulis muda yang lagi naik daun dia. Aku punya semua bukunya.” Tunjuk Sonja pada C yang tengah mengoceh di depan panggung.
Maria mengangguk, kemudian tersenyum tipis.
Setelah acara usai, Sonja berniat mendesak kerumunan dan berfoto dengan C. Namun, C justru menghampiri kursi tempat Sonja duduk.
“Kamu sudah lama di sini, Mar?” Sapa C pada Maria yang duduk semeja dengan Sonja.
“Saya telat 15 menit, Mbak.”
“Kawanmu?” tanya C sambil menunjuk Sonja.
“Ya… dia punya cita jadi penulis seperti mbak.”
“Oh, tidak usah jauh-jauh. Buku temanmu, si Maria ini, ludes terjual dalam tiga minggu. Terbitan indie, 150 eksemplar. Itu bukan perkara mudah, selama bertahun-tahun, Maria sudah belajar menulis dan menggaet pembaca sedemikian rupa.” Jelas C sambil memandangi Sonja.
“Oh, indie?” sorot mata Sonja nampak tidak terlalu antusias.
Maria buru-buru mengeluarkan kamera ponselnya.”Sonja ingin foto dengan mbak C, bukan?”
Sorot mata Sonja berubah antusias.
“Doakan saya jadi penulis besar seperti mbak C, ya?” ucap Sonja entah pada siapa, di tengah sesi foto. 
***
Maria memandangi kronologi sosial media Sonja. Isinya tetap sama, foto-foto Sonja dengan penulis ternama dalam workshop dan talkshow. Foto-foto itu makin banyak saja tiap harinya. Satu yang berubah, likes dan komentar berisi pujian yang disadari Maria, ternyata bertambah makin banyak sejak kali pertama mereka pergi workshop dan talkshow bersama.

Friday, July 21, 2017

Body Perception, The Real Monster

Sumber: @loveselfclubb

'They' make impossible standart for business. And then they will say,"No... your skin too black to be beauty. We have some products to make your skin better. Just blablabla $ for our products."

Poppy Trisnayanti Puspitasari

Tuesday, July 18, 2017

Ini Dia, Si Oportunis Kesayangan Saya

Bagaimana rasanya bisa bersahabat dengan si oportunis? Rasanya unik. Seperti satu teman saya ini. Saya bukan pembencinya dia, tapi bukan juga pecintanya.

Dia abu-abu, saya tahu. Dan abu-abu adalah hal paling manusiawi yang saya tahu sepanjang hidup.

Kata ibu saya, wajahnya paling pias di antara semua teman, saat saya sakit. Tapi, sepanjang saya tahu dia tidak akan pernah menghabiskan tenaga dan waktunya untuk memerjuangkan saya. Seluruh pikirannya berfokus dengan, bagaimana dia bertahan hidup dengan modal sesedikit mungkin, juga seberapa berguna orang lain yang tengah ada di hadapannya, untuk mencapai tujuan.

Di sisi lain, teman saya ini betul-betul tidak berani melukai saya. Tidak pernah dan mungkin tidak akan pernah, jika merunut insting saya. Dia betul-betul hati-hati.

Jika dirunut, saya ini ternyata salah satu dari sangat sedikit teman yang bisa berkomentar jujur tentang dia. Lewat sosial media, saya pernah dikenalkan pada satu teman perempuannya yang lain, yang katanya mirip dengan saya dan tinggalnya di luar kota. Sama-sama tukang koreksinya yang ulung.

Teman saya ini unik, saya sering dengar kabar dia melukai orang lain. Namun dia sendiri sangat takut dilukai orang. Dia memelihara teman-teman yang bisa jujur soal dirinya baik-baik. Meski juga, karena oportunis, dia juga tidak mau kelewat rugi dengan susah-susah menghabiskan waktu memerjuangkan teman-temannya ini. Ya... tapi buat orang semacam teman saya ini, tidak melukai saja sudah luar biasa.

Barangkali, pikir teman-teman yang lain saya ini pendukung si teman ini. Padahal, saya selalu menyediakan koreksi banyak-banyak buatnya. Kalaupun kami nampak nempel, itu karena dia tabah dikoreksi. Karena dalam hal-hal yang banyak orang dia dibilang melukai, dia sebetulnya juga sadar tengah melukai.

Bahkan, satu waktu pernah teman saya mengucap terimakasih. Ucapan saya 3 tahun lalu betulan terjadi, katanya. Saya lupa ucap apa, tapi teman saya ini bilang katanya saya beri peringatan padanya soal wataknya yang melukai tadi. Dan betul, dia kemudian ganti dilukai. Dia cuma cerita tersirat, sih... saya juga nggak ingin tahu detail apa masalah dia. Yang jelas, dia malah traktir saya mie ayam sebagai ucapan terimakasih katanya.

Kadang saya berpikir, apa mungkin jadi tukang koreksi baginya sudah dianggap sebuah keuntungan, dari pertemanan kami?

Ah, tapi untuk melanjutkan pikiran saya yang kesitu itu, saya kemudian ingat bagaimana ibu saya yang melihat ekspresi spontan teman saya ini waktu saya sakit.

Bagaimanapun, dia punya watak oportunis. Sadar jika dirinya melukai saja, sudah sangat luar biasa. Dan kesimpulannya, orang oportunis tidak akan punya waktu berjuang buat orang lain, sekalipun kamu betulan dianggap temannya. Cara mereka berteman memang unik, yaitu dengan berusaha tidak melukaimu, meski juga tidak akan memerjuangkan kamu.

Tapi kembali soal wajahnya yang pias saat saya sakit, kadang saya berpikir, jangan-jangan dia hanya cemas satu tukang kritiknya yang menguntungkan hilang.

Duh, oportunis...

Monday, July 17, 2017

Dear, Maria,"Tidak Ada Hati Patah Lagi, Hari Ini."

Coreted by: #GalerieDeWindha @wara_dinata

Kamu bisa mengendalikan pada siapa kamu akan jatuh cinta. Ini sungguhan. Saya sendiri dua kali patah. Tahu-tahu jatuh cinta saja begitu. Tahu-tahu kok ya sama si itu. Tahu-tahu kok ya, sama si anu. Keduanya memerlakukan saya sangat baik, sebagai teman. Tidak ada yang lebih. Saya patah, sekalian bahagia.

Semenjak itu, saya mulai terobsesi mengendalikan keadaan. Saya hanya ingin jatuh cinta, pada sesuatu yang memang memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, saya akan membuat itu jadi mungkin.

Saya betul melakukannya. Seperti sudah ahli, saya menyusun hidup orang lain yang saya ingin, dengan rapi dan alami, biar semuanya jadi mungkin. Saya betul tidak lagi pernah patah dan kecewa. Dengan susunan yang saya bikin itu, semua ada dalam kendali saya. Namun, saya ternyata tidak pernah siap bertanggung jawab atas apa yang sudah saya susun.

Maka saya berhenti.

Sunday, July 16, 2017

Like Me, He Loved Daniel Sahuleka



Our shoes.


First time when I was entered university. I met nice friend who older 2 years than me. He played well at guitar, real musicians. Like me, he loved Daniel Sahuleka and old songs.

With him, I can tell how deep I loved music. He saw how great I tell him about music and then he didn’t believe that I can’t sing or played music instrument.

He think that everyone who can tell well about music is always can sing or played music instrument like him. But I’m not hehe…


Wherever you are, I hope you have great day, Bro. Hari Sugiarto.

Asyiknya Jadi Orang Yang Tidak Menguntungkan

Saya punya seorang teman, yang keputusan awalnya berteman dengan saya itu begini,"Waktu itu, aku yakin kamu nggak bakal menyakiti aku dan aku pun, juga nggak bakal menyakiti kamu."

Padahal, saya waktu itu otaku militan, nilai fisika paling bagus 45 dan sehari-hari cuma gambar manga sendirian di bangku, sudah begitu suaranya pelan, tampilannya culun dan nggak tahu bagaimana cara senyum dan menyapa, sekadar basa-basi pun. Saya sama sekali tidak menguntungkan, dari segi mana saja.

Jadi, jika kamu masih sempat mengincipi jadi orang tidak menguntungkan, selama beberapa waktu dalam hidupmu, kamu beruntung. Setidaknya, kamu akan sempat kenal dengan yang sungguh temanmu, setidaknya satu. Pasti ada...

Saturday, July 15, 2017

Easier To Talk With Blog (I'm Superintrovert)

Sumber: Gugel

Blog makes me easier to talk. I'm superintrovert. And I don't know why, when I fill psichology test, the result always says that I'm superekstrovert.

How fake I'm. Kwkw...