Monday, January 15, 2018

Damai yang Mengaku Damai

Sumber: Instagram dan twitter yang bersangkutan. Untuk menghindari persekusi terhadap yang bersangkutan, saya memburamkan nama.

Sesungguhnya sangat terlihat mana yang mengatakan penuh kasih dan mana yang sungguh berpraktik penuh kasih.

Seorang teman mengunggah tulisan ini dalam instastorynya. Solidaritas dan kasih sayang terhadap golongan sendiri sering membuat terbakar memang.

Syukur setelah sedikit obrolan pribadi, teman kita ini menyadari pelampiasan solidaritas dan kasih sayangnya bisa disalurkan pada hal yang lebih tepat.

Menerima saran bukan perkara mudah dan teman kita ini sudah berbesar hati menerima saran tersebut.

Semoga kita semua bisa membawa damai. Mulai berhenti menulis atau membagikan ulang segala yang mengatasnamakan kasih, namun justru tiada membawa kasih.

🙏

Sunday, January 7, 2018

Komika Jaman Now, Gemar Sindir Islam (Eksklusif)?


 
Sumber: Instagram @fuadbakh

Postingan teman baik saya, Alfy Maghfira soal para komika yang memergunakan islam sebagai lawakan, membikin saya ingat matei lawakan serupa yang juga pernah saya tonton di salah satu acara Stand Up di Malang. Acara tersebut, diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta besar di Indonesia. Saya sendiri datang free pass dari akses seorang teman yang juga komika di sana.


Teman saya sendiri adalah seorang taat beragama, namun terselubung. Kecuali materi lawakan dari teman saya tersebut, sepanjang acara, hampir seluruh komika yang hadir membahas agama. Bedanya, bukan islam saja yang dibahas akan tetapi juga agama lain yang ternyata memiliki golongan yang merasa cemas dan menganggap apa yang di luar dirinya salah dan wajib dibawa pada kebenaran yaitu golongannya sendiri.


Alfy dan banyak teman-teman yang beragama islam tentu merasa gerah. Alfy sendiri saya tahu pernah belajar di pondok dan dirinya bukan golongan yang gemar menuding itu dan ini salah apalagi memaksa orang masuk dalam islam.


Sebelum mengobrol lebih lanjut, saya ingin ceritakan isi postingan teman saya Alfy. Postingan tersebut dia repost dari akun @fuadbakh. Yang menjadi pembicara dalam video tersebut adalah Ust. Zulkifli Muhammad Ali, Lc, MA. Dalam video, muncul beberapa komika antara lain Joshua Suherman dan Ge Pamungkas. Video lengkapnya sendiri, bisa teman-teman lihat di sini.


Selanjutnya saya mulai membuka ponsel pintar saya dan mencari informasi, dengan kata kunci ‘komika sindir islam’. Berita-berita soal Ge Pamungkas dan Joshua Suherman bermunculan paling atas. Salah satu beritanya berjudul Tak Hanya GePamungkas, Materi Stand Up Joshua Suherman Juga Dianggap Sindir Umat Islam. Judul berita tersebut, tentu memerlihatkan bahwa islam yang dimaksud adalah islam yang keseluruhan, apa betul demikian?


Semua hal ini mengingatkan saya pada materi islam inklusif VS eksklusif dalam salah satu sesi Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) Batu, Desember 2017 lalu. Melalui materinya tersebut, dijelaskan dua jenis islam; inklusif digarisbawahi sebagai mereka yang lebih luwes dan mampu menghubungkan hubungan sesama mahluk hidup dengan hubungan kepada Tuhan, sedangkan eksklusif digarisbawahi sebagai mereka yang mudah menjatuhkan vonis halal dan haram tanpa penjelasan dan mereka yang cemas karena merasa apa yang di luar mereka salah dan mestinya masuk dalam islam versi mereka.


Berikut transkrip percakapan yang ada di dalam video yang juga saya telusuri hingga akun @fuadbakh.


“Minum-minum bir ga papa! Yang penting ada dakwahnya disini!”


“Kalian ini menertawakan agama, hal-hal seperti ini tempat ini dibakar? Yang bakar masuk surga loh.”


Nilai yang bisa kita dapat dari kalimat pertama, sesungguhnya merujuk pada kita semua, beragama apa saja yang memiliki double standart, menjadikan agama sebagai tameng selagi untung.


Sedangkan pada kalimat kedua, sesungguhnya merujuk siapa saja yang ada di barisan islam esklusif. Lebih lanjut, selain mudah menjatuhkan vonis halal dan haram tanpa penjelasan, golongan ini mewujudkan kegelisahannya tersebut dengan penghancuran ekstrim seperti pembakaran bahkan bom, terhadap apa yang bagi golongan tersebut dianggap salah.


“Jakarta banjir beda omongannya. Wah, ini adalah cobaan dari alloh subhanahuwata’ala. Sesungguhnya Alloh akan memberikan cobaan kepada yang dia cintai. Cintaiiiii lah apaan?”


Lagi-lagi, kalimat yang saya transkip di atas merupakan wujud dari golongan yang esklusif tadi. Golongan ini buru-buru mengembalikan segalanya kepada Tuhan, tanpa telaah apalagi penelitian.


Sesungguhnya, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi fokus pembahasan para komika tersebut adalah golongan islam eksklusif, bukan islam secara keseluruhan. Kita semua bahkan pasti merasakan, jika sesama islam saja kerap menjadikan guyonan golongan islam esklusif, meski guyonan tersebut berlaku buat kalangan sendiri.


Kita tentu berharap, komika-komika yang telah dituduh melecehkan islam, betul-betul memahami jika konteks lawakan yang mereka bawakan adalah mengritisi golongan islam eksklusif, bukan islam secara keseluruhan. Kita semua tentu memahami juga, bahwa di dalam agama mana saja, selalu ada dua golongan; inklusif dan esklusif yang berkali-kali dibahas dalam tulisan ini.


Apa permasalahan ini dapat diselesaikan dengan vonis halal dan haram? Kita semua tentu berharap para pemuka agama ada yang bersedia menjabarkan bagaimana semua ini dapat menajadi halal atau haram. Vonis halal dan haram yang dijatuhkan serupa video yang saya kutip di atas pun tidak salah. Jatuhnya vonis tersebut adalah dari seorang yang berilmu. Bagaimana vonis tersebut dijatuhkan dengan kesan keras adalah agar umat tidak meremehkan perintah Tuhan. Masing-masing yang berilmu sedang melakukan tanggungjawabnya.


Mana yang lebih baik? Golongan inklusif atau eksklusif dalam islam? Sesungguhnya kedua golongan tersebut sama-sama sedang memerjuangkan kebaikan dengan cara masing-masing. Tidak perlu kita semua berdebat soal mana yang lebih baik. Banyak dari kita mengaku sebagai islam golongan inklusif yang lebih luwes dan terbuka, namun kita justru menghujat mereka yang esklusif karena dianggap merasa selalu lebih unggul. Padahal dengan demikian, kita sendiri sama dengan menganggap golongan diri sendiri yang lebih unggul. Lha… jadinya kan ya sama saja. Mana yang lebih unggul tidak patut dipermasalahkan, baru menjadi masalah ketika kita semua mengaku beragama akan tetapi malah gemar saling menyakiti.


Dan bagaimana dengan para komika yang terlanjur melemparkan lawakan yang dianggap melecehkan umat islam? Kita semua tentu berharap dari para komika tersebut atau bahkan komika lainnya, mampu membuat materi lawakan penyeimbang mengenai semua agama yang sesungguhnya memiliki dua golongan tadi. Materi penyeimbang di sini tentu akan mendidik kita semua sebagai penikmat stand up comedy. Tidak ada lagi sekadar tertawa, namun juga kita belajar bersama.


Oh iya, bagi teman-teman yang sedang membaca tulisan ini, saya berharap ada yang melanjutkan tulisan sederhana ini dalam bentuk yang lebih analitis. Dan tidak perlu juga meminta ijin kepada saya apabila hendak melanjutkan tulisan ini menjadi lebih analitis.

Semoga kita semua selalu bisa saling mencintai dan membawa damai.

Friday, January 5, 2018

(ARTI LIRIK) Bury Me Down By The River

Bury Me Down By The River


Kubur Saya Dekat Sungai
Bee Gees

I wasn't born in the morning, no
I must have been born in the night
I've done my load and I'll carry my load
And all I own is my life

Saya dulu tidak lahir saat pagi hari, tidak
Saya dulu lahir saat malam
Saya menyelesaikan beban saya dan saya akan membawa beban saya
Dan semua yang saya punya adalah hidup saya

I wasn't born to be lucky ,
'cause luck had no future with me
I've done my wrong and I'll sing, sing, sing my song
and stand beneath the hanging tree

Saya tidak terlahir dengan keberuntungan
Karena keberuntungan tidak memiliki masa depan bersama saya
Saya menyelesaikan kesalahan saya dan saya akan bernyanyi, bernyanyi, bernyanyi lagu saya
Dan berdiri di bawah pohon gantung

Bury me down by the river
Let all the towns people see
Their enemy's dead, let me lay, lay my head
Just put me down and set me free

Kubur saya dekat sungai
Biar semua orang di kota melihat
Musuh mereka mati, biar saya merebahkan diri, merebahkan kepala saya
Hanya letakkan saya sedalamnya dan biarkan saya bebas

I wasn't born as a rich man, no
A rich man I never, I never could be
I've done my wrong and I'll sing, sing, sing my song
And stand beneath the hanging tree (Everybody sing now)

Saya tidak terlahir sebagai lelaki kaya, tidak
Saya tidak akan pernah jadi lelaki kaya, tidak akan pernah jadi lelaki kaya
Saya menyelesaikan kesalahan saya dan saya akan bernyanyi, bernyanyi lagu saya
Dan berdiri di bawah pohon gantung

Bury me down by the river, lord no
Let all the towns people see, see
Their enemy's dead, let me lay, lay, lay my head
Just put me down and set me free
(I want to hear everybody sing)

Kubur saya dekat sungai, tidak tuan
Biarkan semua orang di kota melihat
Musuh mereka mati, biarkan saya merebah, biarkan saya merebahkan kepala
Hanya letakkan saya sedalmnya dan biarkan saya bebas
(Saya ingin mendengar semuanya bernyanyi)

Bury me down by the river
Let all the towns, let all the towns people see
Their enemy's dead, let me lay, let met lay, let me lay my head along
Just put me down and set me free (set me free)

Kubur saya dekat sungai
Biarkan semua orang di kota melihat
Musuh mereka mati, biarkan saya merebah, biarkan saya merebahkan kepala
Hanya letakkan saya yang dalam dan biarkan saya bebas (buat saya bebas)

Friday, December 29, 2017

Jilbab, Solusi Berbalap 'Baik' Antar Perempuan?

Coreted by: #AnomaliKreate

Tulisan ini saya catut dari tulisan saya di Instagram, 23 September 2017. Tulisan tersebut telah saya arsipkan dari Instagram untuk merapikan feed saya di sana. Tulisan ini telah saya beri tambahan seperlunya.

Teman saya di SMK, beda angkatan, mengoreksi teman-teman perempuannya yang berjilbab namun masih senang memasang foto tanpa jilbab di sosial media. Koreksian itu dituliskannya di status BBM. Hampir satu semester berikutnya, teman saya itu ternyata upload swafoto terbarunya tanpa jilbab dan jadi DP BBM. Kesehariannya? Jelas dia berjilbab, makanya sampai bikin status macam begitu di status BBM. Saya kemudian komen DPnya itu begini,”Loh… eman banget ada yang hilang ya…” Dan dia tidak paham maksud saya apa, katanya.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.

Teman kampus saya, tidak bisa dibilang kenal karena kami tidak pernah bertegur sapa dan saya hanya sempat mengetahui dia di sebuah acara lantas follow Instagramnya, mengunggah postingan di Instagram dengan caption panjang sekali. Caption itu intinya mengoreksi teman-teman perempuannya, yang mengumumkan hijrahnya di sosial media. Padahal, si teman ini pun menunjukkan hijrahnya di media sosial, bahkan dipergunakannya buat berdagang pakaian yang katanya syar’i. Di bawah postingannya itu, saya hanya komen,”Soalnya postingan macam begitu (soal hijrah) bisa dipakai ‘jualan’.” Dan dia balik tanya maksud saya apa. Tersinggung bisa jadi.

Jika saja teman saya ini sebelumnya tidak melayangkan penghakimannya pada sesama perempuan lebih dahulu, saya tidak bakal tertarik untuk menyentilnya dengan cara demikian.
Agama itu damai. Jadi, kapan kita mau berhenti saling menyakiti? Jadi, kapan kita mulai berhenti saling merasa lebih baik? Sesama perempuan pula.

Bagi Tuhan, membolak-balik hati betapa mudah. Bisa jadi apa yang kita hakimi salah hari ini, besok hari kita lakukan juga. Oh iya, tolak ukur yang saya pergunakan dalam kejadian ini soal penghakiman, adalah mereka yang ucapan dengan praktiknya tidak sejalan, namun sudah merasa berhak menuding selain dirinya adalah salah.

Sesungguhnya, jilbab bukan alat untuk para perempuan berbalap merasa baik. Jilbab adalah salah satu anjuran kebaikan dalam beragama, jika betul-betul dimaknai. Masing-masing di antara kita sendiri; perempuan, yang menjadikan jilbab sebagai alat saling menyakiti dengan perempuan lain.

“There is no bad religion, they are only bad people.” –Instagram 9Gag-